• Hisab dan Falak
  • Mengapa 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 18 Februari 2026? Mengenal Paradigma Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

    Mengapa 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 18 Februari 2026? Mengenal Paradigma Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

    Oleh: Amirul Muslihin, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Timur, dan Anggota Pengembang Perangkat Lunak KHGT Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

    Dalam diskusi mengenai penanggalan Islam, sering muncul pertanyaan mengapa terdapat perbedaan penetapan awal bulan hijriah. Salah satu kasus yang menarik perhatian adalah penetapan 1 Ramadan 1447 H yang menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) jatuh pada 18 Februari 2026, sementara kriteria lain seperti New Visibilitas MABIMS menetapkannya pada 19 Februari 2026.

    Mengapa perbedaan ini terjadi? Jawabannya bukan terletak pada kesalahan hitung, melainkan pada perbedaan paradigma dan metodologi.

    4 Fondasi Utama KHGT

    Dalam konstruksi KHGT-MU (Muhammadiyah), penentuan awal bulan tidak lagi bertanya “apakah hilal terlihat di suatu tempat?”, melainkan berfokus pada fenomena kosmik global. Terdapat empat fondasi utama yang digunakan:

    1. Ijtimak global: Konjungsi Bulan-Matahari dalam perspektif Bumi.
    2. Batas hari syar’i: Proyeksi ke garis fajar global.
    3. Parameter PKG8-5: Keterpenuhan parameter kalender global.
    4. Tanpa Visibilitas Lokal: Tidak berbasis pada keterlihatan hilal di lokasi tertentu.

    Untuk Ramadan 1447 H, parameter KHGT sudah terpenuhi di wilayah daratan Alaska benua Amerika setelah pukul 24.00 UTC sebelum fajar masuk di garis batas hari baru global. Oleh karena itu, secara sistem global, 1 Ramadan masuk pada 18 Februari 2026.

    Perbandingan dengan Kriteria Lain

    Data menunjukkan adanya divergensi (perbedaan) yang nyata antara berbagai sistem kalender untuk tahun 1447 H:

    • KHGT: 18 Februari 2026
    • Ummul Qura: 18 Februari 2026
    • WH-Muhammadiyah (Wujudul Hilal): 19 Februari 2026
    • NV-MABIMS (Pemerintah Indonesia): 19 Februari 2026
    • Hijruniverse: 19 Februari 2026

    Berdasarkan data tersebut, KHGT memiliki kesamaan dengan Ummul Qura, namun berbeda dengan kriteria yang selama ini digunakan di Indonesia (Wujudul Hilal dan NV-MABIMS).

    Mengapa Terjadi Perbedaan? (Analisis Ontologis)

    Perbedaan ini berakar pada perbedaan ontologi atau dasar pemikiran dalam menentukan awal bulan:

    1. KHGT: Menggunakan pendekatan deterministik-astronomis berbasis siklus sinodis bulan sebagai fenomena kosmik utuh. Garis batasnya adalah fajar global dan tidak mensyaratkan visibilitas hilal.
    2. WH-Muhammadiyah: Berbasis pada wujudul hilalsaat matahari terbenam di Yogyakarta, karena wujudul hilal menganut teori matlak wilayatul hukmi, yakni pada satu hari yang sama hanya ada satu tanggal di seluruh wilayah Indonesia.
    3. NV-MABIMS: Berbasis pada imkan rukyat regional (kemungkinan terlihatnya hilal) dengan syarat tinggi dan elongasi tertentu (IR3-6,4) yang sangat sensitif terhadap lokasi geografis.

    Pada Ramadan 1447 H, posisi ijtimak berada pada zona marginal (batas tipis). Secara global parameter sudah terpenuhi, namun menurut kriteria visibilitas regional, syarat keterlihatan hilal belum tercapai. Inilah yang menyebabkan sistem global masuk lebih awal satu hari dibanding sistem visibilitas regional.

    Tren Divergensi 12 Tahun

    Berdasarkan data setatistik di atas, kriteria NV-MABIMS memiliki tingkat perbedaan atau divergensi tertinggi dengan KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal) karena adanya perbedaan mendasar pada paradigma, metodologi, dan cakupan geografis.

    Berikut adalah alasan-alasan utamanya:

    • Perbedaan Paradigma Ontologis: KHGT menggunakan pendekatan deterministik-astronomis yang berbasis pada fenomena kosmik global dan siklus sinodis bulan secara utuh. Sebaliknya, NV-MABIMS berbasis pada imkan rukyat regional, yaitu kemungkinan terlihatnya hilal di wilayah tertentu. Data setatistik di atas menyebutkan bahwa semakin suatu sistem berbasis pada visibilitas regional, maka potensi divergensinya terhadap model global akan semakin tinggi.
    • Sensitivitas Geografis: Kriteria NV-MABIMS sangat sensitif terhadap lokasi geografis dan zona tertentu. Penentuannya bergantung pada keterpenuhan syarat di daratan sisi barat Asia Tenggara (seperti Sabang Banda Aceh atau sekitar Sabang) dengan parameter tinggi-elongasi khusus (IR3-6,4). Sementara itu, KHGT menggunakan garis fajar global sebagai batas hari dan tidak mensyaratkan visibilitas di lokasi tertentu.
    • Penanganan “Kasus Marginal” (Batas Tipis): Pada kondisi astronomis tertentu di mana posisi bulan berada pada zona marginal (batas tipis), parameter kalender global KHGT sering kali sudah terpenuhi sehingga bulan baru dimulai lebih awal. Namun, karena kriteria visibilitas regional NV-MABIMS memerlukan syarat keterlihatan yang lebih ketat, sistem ini cenderung menunda awal bulan satu hari lebih lambat dibanding sistem global.
    • Sifat Sistem yang Fluktuatif: Analisis data selama 12 tahun (1446–1457 H) menunjukkan bahwa model berbasis visibilitas regional seperti NV-MABIMS bersifat lebih fluktuatif dibandingkan model global yang lebih stabil. Hal ini terlihat dari data statistik di mana divergensi NV-MABIMS terhadap KHGT mencapai angka tertinggi, yaitu 46,2% untuk bulan Ramadan dan 53,8% untuk bulan Syawal.

    Secara struktural, perbedaan ini bukan disebabkan oleh kesalahan hitung (hisab), melainkan merupakan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi antara sistem yang mengejar visibilitas lokal/regional dengan sistem yang berbasis pada parameter kalender global tunggal.

    Sedangkan, Ummul Qura sering memiliki kesamaan tanggal dengan KHGT karena tingkat divergensi (perbedaan) antara keduanya sangat rendah dibandingkan dengan kriteria kalender lainnya.

    Berikut adalah alasan-alasan utama mengapa keduanya sering menghasilkan tanggal yang sama:

    • Tingkat Divergensi yang Sangat Rendah: Data statistik selama 12 tahun (1446–1457 H) menunjukkan bahwa Ummul Qura memiliki konsistensi yang sangat tinggi dengan KHGT. Untuk bulan Ramadan, perbedaannya hanya sebesar 7,7%, sedangkan untuk bulan Syawal, tingkat perbedaannya adalah 0%, yang berarti keduanya selalu sama dalam periode tersebut.
    • Kemiripan Parameter Astronomis: Meskipun secara ontologis berbeda, kriteria teknis keduanya sering berimpit. KHGT menggunakan parameter kalender global (PKG8-5) yang berbasis pada fenomena kosmik. Sementara itu, Ummul Qura menetapkan awal bulan jika ijtimak terjadi sebelum maghrib di Makkah dan piringan atas bulan masih di atas ufuk saat matahari terbenam. Parameter “bulan di atas ufuk” setelah ijtimak ini sering kali sudah memenuhi syarat global yang ditetapkan dalam KHGT.
    • Stabilitas Sistem: Berbeda dengan sistem yang berbasis pada visibilitas regional (seperti NV-MABIMS) yang sangat sensitif terhadap lokasi geografis, Ummul Qura dan KHGT cenderung lebih stabil dan deterministik. Sumber menyebutkan bahwa semakin suatu sistem menjauh dari syarat visibilitas regional yang ketat, maka potensinya untuk selaras dengan model global seperti KHGT akan semakin besar.
    • Contoh Kasus Ramadan 1447 H: Pada penentuan 1 Ramadan 1447 H, baik KHGT maupun Ummul Qura secara kompak menetapkan tanggal 18 Februari 2026. Hal ini berbeda dengan kriteria lain seperti Muhammadiyah, NV-MABIMS, dan Hijruniverse yang menetapkannya pada 19 Februari 2026 karena masih menunggu terpenuhinya syarat keterlihatan atau posisi hilal di wilayah lokal/regional tertentu.

    Singkatnya, Ummul Qura sering searah dengan KHGT karena kriterianya—meskipun berbasis administratif di Makkah—lebih mendekati hasil perhitungan fenomena kosmik global dibandingkan kriteria yang mensyaratkan visibilitas atau keterlihatan hilal secara regional.

    Kesimpulan

    Perbedaan tanggal 1 Ramadan 1447 H adalah konsekuensi logis dari perbedaan paradigma. Jika tujuannya adalah menghadirkan kalender global yang tunggal, stabil, dan konsisten secara astronomis untuk keseragaman umat di seluruh dunia, maka model global deterministik seperti KHGT memiliki koherensi yang lebih kuat dibandingkan model visibilitas regional.

    Editor Syahroni Nur Wachid

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    5 mins