• Berita
  • MTT PWM Jatim Terima Kunjungan Mahasiswa UNIDA Gontor, Bahas Tajdid dan Dinamika Pemikiran Islam

    Tarjihuna.id — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MTT PWM) Jawa Timur menerima kunjungan akademik mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Rabu (21/10/2026). Kunjungan tersebut menjadi ruang dialog mengenai pembaruan pemikiran Islam, metode tarjih, dan cara menyikapi perbedaan pandangan keagamaan di tengah masyarakat.

    Kegiatan bertema “Tajdid dan Dinamika Pemikiran Islam dalam Menjawab Tantangan Zaman” itu diikuti lima mahasiswi dan seorang dosen pembimbing. Rombongan diterima oleh perwakilan PWM Jawa Timur, Dr. Syamsuddin, bersama jajaran MTT PWM Jawa Timur, yakni Prof. Zuhdi, Dr. M. Ikhwanuddin, Syahroni Nur Wachid, dan Drs. Mukarram, M.Hum.

    Dalam pemaparannya, Dr. Syamsuddin menjelaskan konsep ulil amri yang terdapat dalam Al-Qur’an, termasuk beragam penafsiran mengenai pihak yang memiliki otoritas dalam kehidupan umat Islam.

    Menurut dia, ulil amri tidak semata-mata dimaknai sebagai penguasa atau pemegang kekuasaan pemerintahan. Istilah tersebut juga dibahas dalam kaitannya dengan ulama dan pihak yang memiliki otoritas dalam membimbing kehidupan umat.

    “Ulil amri bermacam-macam pemahamannya,” demikian pokok penjelasan yang disampaikan dalam diskusi tersebut.

    Pembahasan itu mengantarkan peserta pada persoalan hubungan agama dan negara. Negara, dalam kerangka yang dijelaskan, memiliki kewajiban melindungi kebebasan masyarakat dalam menjalankan keyakinan agama. Namun, perlindungan tersebut tidak berarti negara harus menyeragamkan seluruh praktik keagamaan yang berada dalam ranah keyakinan dan pilihan masing-masing kelompok.

    Sebagai contoh, perbedaan penetapan awal bulan atau hari pelaksanaan ibadah di kalangan organisasi Islam perlu ditempatkan dalam kerangka penghormatan terhadap perbedaan. Selama berada dalam ketentuan hukum yang berlaku, perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk meniadakan hak kelompok lain.

    Dr. Syamsuddin juga menyinggung hubungan Muhammadiyah dengan negara yang dapat dipahami melalui prinsip loyalitas kritis. Warga persyarikatan memiliki tanggung jawab mendukung kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus tetap menjalankan peran kritis demi perbaikan kehidupan bersama.

    Muhammadiyah dan tradisi pemikiran lintas mazhab

    Salah satu pembahasan penting dalam kunjungan tersebut adalah posisi Muhammadiyah dalam tradisi fikih. Muhammadiyah mengembangkan manhaj tarjih sebagai pendekatan untuk memahami dan menetapkan pandangan keagamaan berdasarkan sumber ajaran Islam serta pertimbangan keilmuan.

    Pendekatan ini tidak mengikat Muhammadiyah pada satu mazhab fikih tertentu. Meski demikian, bukan berarti Muhammadiyah menolak atau merendahkan mazhab-mazhab yang telah berkembang dalam sejarah Islam.

    Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali tetap dipandang sebagai bagian penting dari khazanah keilmuan Islam. Perbedaan pendapat di antara para ulama perlu dipelajari secara proporsional, bukan dijadikan dasar untuk saling mencela.

    Dalam diskusi, peserta juga diajak memahami perbedaan praktik ibadah, termasuk tata cara berzikir dan sujud sahwi. Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya membaca sumber-sumber fikih secara utuh sebelum menilai praktik keagamaan kelompok lain.

    Keterbatasan literasi keislaman, menurut pokok pembahasan dalam pertemuan itu, dapat membuat masyarakat terjebak dalam pembelahan identitas. Seseorang seolah-olah hanya diberi dua pilihan: mengikuti satu organisasi atau organisasi lainnya, tanpa memahami keluasan tradisi pemikiran Islam.

    Karena itu, penguatan literasi menjadi salah satu langkah penting untuk membangun sikap beragama yang dewasa. Masyarakat perlu terus belajar, memahami dasar argumentasi setiap pandangan, dan membedakan persoalan prinsip dengan persoalan yang memang memiliki ruang perbedaan.

    Memperkuat tradisi belajar dan menghormati perbedaan

    Diskusi juga menyinggung sejarah perkembangan tarjih Muhammadiyah serta peran para tokoh yang membangun tradisi pemikiran keislaman di lingkungan persyarikatan. Prof. Zuhdi turut memberikan penjelasan mengenai sejarah tarjih dan kepemimpinan Majelis Tarjih dari masa ke masa.

    Melalui forum akademik ini, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran bahwa pembaruan pemikiran Islam tidak dapat dilepaskan dari tradisi membaca, menelaah dalil, berdialog, dan mempertimbangkan konteks persoalan yang dihadapi masyarakat.

    Semangat tersebut juga tercermin dalam pesan tentang pentingnya menjaga adab ketika berbeda pendapat. Dalam catatan diskusi, disebutkan keteladanan Syaiful Bahar, seorang tokoh Nahdlatul Ulama di Bondowoso, yang menekankan pentingnya menghormati Muhammadiyah dan tidak mengganggu kelompok lain. Pesan itu menggambarkan bahwa penghormatan antarkelompok dapat tumbuh tanpa harus menghapus perbedaan pandangan.

    Kunjungan akademik UNIDA Gontor ke MTT PWM Jawa Timur ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana pemikiran tarjih dibahas dalam konteks organisasi, kehidupan beragama, dan kebangsaan.

    Pada akhirnya, dinamika pemikiran Islam menuntut lebih dari sekadar kemampuan mempertahankan pendapat. Ia juga membutuhkan keluasan ilmu, keterbukaan berdialog, dan kesediaan menghormati pandangan yang berbeda.

    Dengan tradisi literasi dan dialog yang kuat, perbedaan diharapkan menjadi sumber pembelajaran bagi umat, bukan pemicu perpecahan.

    Penulis Syahroni Nur Wachid

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    4 mins